HOME VISIT

Berburu info dari rumah ke rumah

Rabu, 3 Desember 2020

Karya : Siti Marwanah


Hari ini cuaca lebih bersahabat, setelah dua hari hujan turun mengguyur bumi. Sinar matahari tidak terlalu menyengat. Sebagai guru Bimbingan Konseling di salah satu sekolah menengah pertama di wilayah Lombok Barat, saya sering melakukan kunjunga rumah yang biasa diistilahkan dengan home visit. Kegiatan ini saya lakukan jika menemukan kasus pada peserta didik yang harus melibatkan orang tua dalam mengatasi masalah tersebut. 

Sejak Senin saya merencakan melakukan kunjungan rumah. Kali ini saya ditemani oleh salah satu rekan yang sama-sama mengampu bimbingan konseling. 

Kebetulan saat ini kasus yang dialami oleh hampir sebagian besar peserta didik adalah tidak memiliki nilai sama sekali di beberapa mata pelajaran. Perlu diketahui sejak merebaknya pandemi Covid 19 pada bulan Maret 2020 pembelajaran yang biasanya menggunakan sistem tatap muka di ganti dengan pembelajaran daring. Sehingga guru mata pelajaran memberikan tugas kepada peserta didik melalui google classroom dan gruf wattshap. Hal inilah yang membuat peserta didik jadi abai mengerjakan tugas karena tidak bisa bertemu langsung dengan gurunya.

Wilayah yang menjadi target pertama kunjungan kami hari ini adalah Carikauh. Wilayah ini penduduknya mayoritas beragama Hindu. Dari data yang kami miliki jumlah siswa yang tidak memiliki nilai berjumlah sekitar 13 orang. Angka ini bisa dikatakan banyak karena setiap tahun kasus seperti ini jarang ditemukan. 

Motor Nmex yang kami kendarai melaju menyusuri jalan kampung yang masih kental dengan alam pedesaan. Sepanjang jalan yang kami lalui terhampar luas area persawahan. Jalanan yang berliku menambah suasana lebih menantang dan berkesan. Lima belas menit di atas kendaraan akhirnya kami sampai juga di wilayah Carikauh. Baru saja kami memasuki tempat yang kental dengan pernak pernik Hindu di setiap bangunan, kami di sambut oleh salah satu siswa yang tidak asing lagi bagi kami karena dia termasuk siswa yang aktif di kepengurusan OSIS di sekolah. Gede Bendesa biasanya dia panggil. Sekarang dia sedang duduk di kelas 8.

Dengan menggunakan sepeda dia yang mengantar kami menuju rumah beberapa siswa yang akan menjadi target hari ini. Para siswa langsung berkumpul di salah satu rumah siswa yang kami kunjungi. Wajah mereka tampak sumringah melihat kedatangan kami kesana. Beberapa saat kami menjelaskan maksud kunjungan yang kami lakukan. Wajah yang tadinya tersenyum spontan menunduk malu karena ternyata mereka tidak memiliki nilai sama sekali di beberapa guru mata pelajaran karena para siswa tidak pernah mengerjakan tugas yang diberikan oleh para guru.

Selama ini mereka selalu beralasan penyebab tidak mengumpulkan tugas karena mereka tidak punya kuota internet. 

Tapi...

Ternyata itu hanya alasan bohong yang mereka buat karena ternyata di wilayah Carikauh sudah dipasangkan WiFi gratis di masing-masing RT oleh pihak kantor desa Dasan Tapen. 

Dari data yang saya peroleh, saya berani menyimpulkan bahwa para siswa tidak memanfaatkan jaringan internet gratis yang diberikan oleh pemerintah desa. Mereka tidak menggunakan fasilitas tersebut secara positif, malah diperuntukkan untuk main game dan medsos.

Tempat kedua yang menjadi sasaran kunjungan kami hari ini yaitu BTN Giri Menang Gerung. Lokasi BTN yang luas ditambah alamat yang tidak begitu lengkap membuat kami tidak berhasil menemukan siswa yang kami cari. 

Kami pun melanjutkan pencarian siswa ke wilayah Bermi Babussalam. Dua saudara kembar kakak beradik yang biasa di panggil Opan Opin ini juga menjadi target kunjungan berikutnya di hari yang sama. Dengan kasus yang hampir serupa dengan para siswa sebelumnya kami pun meluncur memotong jalan melewati  jalur perkampungan dan jalur bay pass BIL agar bisa cepat sampai di sana. 

Rumah baru di tengah perkebunan dengan ukuran tidak terlalu besar itu berada lumayan jauh dari perkampungan penduduk. Untuk sampai kesana kami harus memarkir motor di pinggir jalan dan melewati pematang. Dua orang remaja disertai seorang balita keluar dari dalam begitu mendengar kedatangan kami. 

Ternyata kedua orang tua mereka setiap pagi harus berangkat ke pasar sindu. Sang ibu berjualan sayur sementara bapaknya menjadi tukang parkir di sana. Kondisi ini yang membuat para siswa jarang mendapat pengontrolan dari orang tua terkait dengan sudah atau belum mereka mengerjakan tugas yang diberikan oleh bapak/ibu guru.  

Padahal peran oarng tua sangat penting untuk memantau aktifitas keseharian para siswa di rumah. Namun karena orang tua sibuk mencari nafkah di luar rumah membuat mereka tidak sempat mengontrol putra putri mereka.

Menjelang Zuhur, tempat selanjutnya yang kami kunjungi yaitu telaga potet, bagian dari wilayah Babussalam . Kami menemukan salah satu siswa kelas tujuh dengan kasus yang sama seperti sebelumnya. Siswa ternyata jarang mengumpulkan tugas karena kondisi ekonomi keluarga siswa yang kurang. Ibunya hanya seorang pedagang sayur keliling, sementara sang bapak sudah lama meninggal. Hal inilah yang membuat siswa tidak memiliki handphone. 

Siswa tinggal bersama ibu dan kedua kakaknya yang masih SMA. Terkadang siswa ingin ke sekolah mengambil tugas, namun karena sepeda satu-satunya yang dia miliki rusak, sementara jarak sekolah yang mencapai hampir tiga kilo dari rumahnya ditambah lagi siswa tidak hapal jalan menuju sekolah membuatnya mengurungkan niat tersebut. Sejak baru masuk sekolah, siswa hanya satu kali datang ke sekolah karena selama pandemi, setiap hari pembelajaran dilakukan secara daring. 

Jalan satu-satunya yang bisa dilakukan siswa adalah dengan meminjam handphone temannya untuk bisa mengikuti ulangan semester secara daring atau meminjam handphone kakaknya dengan catatan dia hanya bisa mengerjakan tugas setelah temannya memberikan izin atau setelah sang kakak pulang sekolah.

Kondisi ini terkadang tidak bisa diketahui oleh hampir seluruh guru, sehingga saat siswa tidak mengumpulkan tugas, guru langsung memberikan label bahwa anak tersebut malas. 

Kegiatan kunjungan rumah merupakan satu kegiatan yang bisa menjadi solusi untuk mengetahui kondisi real keluarga para siswa di rumah. Dengan begitu sebagai seorang guru akan bisa lebih bijak dalam menilai, serta memberikan bimbingan langsung kepada para siswa.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Home visit (part 2)